profil ponpes Ashabul Yamin
Pondok pesantren Ashhabul Yamin terletak di kaki gunung Marapi. Kawasan dengan udara sejuk dan pemandangan persawahan yang menghijau tersebut tak lain adalah sebuah desa yang bernama Lasi Tuo, terletak di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di masa dahulunya, Lasi Tuo adalah sebuah desa yang minim sarana pendidikan dan kehidupan masyarakat masih di bawah garis kemiskinan. Masyarakat Lasi Tuo pada saat itu masih buta tentang pentingnya pendidikan, kemiskinan, kesenjangan sosial telah menutup pemikiran mereka. Oleh karena tu, animo masyarakat sangat kurang terhadap pendidikan. Keadaan itu sangat berimbas pada pembangunan desa yang terbilang lambat.
Pondok Pesantren Ashhabul Yamin dibangun pada Agustus 1992 oleh inisiatif dan keinginan Buya Zamzami Yunus. Buya sendiri adalah seorang ulama yang berasal dari Lasi Tuo. Beliau merupakan alumni MTI Canduang, dan alumni Busthanul Muhaqqiqin, Malalo. Buya juga pernah mengajar di dua madrasah tersebut selama puluhan tahun. Saat mengundurkan diri sebagai tenaga pendidik di MTI Canduang, beliau berniat membangun sebuah pondok pesantren. Beliau berkeinginan memajukan Lasi Tuo dan masyarakat umumnya.
Buya bekerjasama dengan sejumlah tokoh masyarakat Lasi Tuo, yaitu Bapak Malin Daro. Pembangunan pondok pesantren dimulai di sebuah tanah waqaf milik Malin Daro tersebut.
Pondok pesantren Ashhabul Yamin berhasil dibangun. Kala itu ponpes masih sangat sederhana bangunannya. Pesantren ini hanya menerima 19 murid dengan empat tenaga pengajar, yaitu Buya Zamzami Yunus, Ustad Marzuk Malin Kayo, Ustad Syafrizal Khatib Mangkuto, Ustad Ahmad Dardir Pakiah Bandaro dan Ernawati (almh) di bidang tata usaha.
Sistem pendidikan yang dianut pesantren ini pada waktu itu adalah sistem pendidikan salafiah atau halaqah. Kurukulum yang di pakai hanya terbatas pada kurikulum pondok. Kurikulum ini diatur untuk pendalaman ilmu Nahwu, Sharaf, tafsir, fiqih dan lain–lain.
Pada mulanya hanya terdapat tiga ruangan semi permanen untuk proses belajar mengajar. Perkembangan proses belajar mengajar pada waktu itu masih sangat memprihatinkan. Para santri hanya belajar pada ruangan sederhana. Uang sekolah yang dipungut dari santi hanya cukup untuk membeli kapur tulis. Dan para tenaga pengajar digaji dari infak masyarakat.
Dari segala keterpurukan itu, Ashhabul Yamin bangkit mengepakkan sayapnya. Dengan tekad yang kuat, buya bersama Ketua Yayasan mengembangkan Ashhabul Yamin sebagai wujud lentera di tengah hitamnya kehidupan masyarakat.
sekian profil ponpes Ashabul Yamin dari saya atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih, salam media assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Komentar
Posting Komentar